Detail Cantuman Kembali
POLA PENGGUNAAN KORTIKOSTEROID PADA PSIEN PENYAKIT PARU OBSTRUKSI KRONIK (PPOK)
PENYAKIT PARU OBSTRUKSI KRONIK (PPOK)
Penyakit Paru Obstruksi Kronik (PPOK) adalah penyakit paru kronis yang ditandai dengan terjadinya obstruksi atau adanya hambatan aliran udara di saluran pernapasan (paru-paru). Salah satu terapi yang digunakan pada PPOK adalah kortikosteroid. Kortikosteroid merupakan obat sebagai agen antiinflamasi yang bekerja dengan merangsang biosintesis lipomodulin dan menghambat aktivitas enzim fosfolipase A2 sehingga dapat mencegah pelepasan mediator inflamasi. Tujuan dari peelitian ini untuk mengkaji pola penggunaan kortikosteroid pada pasien PPOK. Penelitian ini menggunakan metode studi literatur pada 7 jurnal terindeks internasional (SCOPUS). Sampel yang digunakan pada artikel ini adalah pasien dengan diagnosis PPOK dan menerima terapi kortikosteroid, berjenis kelamin laki-laki dengan usia >65 tahun yang memenuhi kriteria inklusi. Pengumpulan studi literatur dilakukan pada April - Juli 2020. Hasil dari studi literatur menunjukkan pada pemberian metilprednisolone dengan rute intravena pada pasien ICU dan non ICU menunjukkan hasil yang berbeda, pada pasien ICU diberikan dengan metilprednisolone dosis 0,5 mg/kg/6 jam menunjukkan hasil yang kurang diharapkan yaitu tidak terjadi penurunan durasi ventilasi mekanik, masa inap ICU, dan laju intubasi. Sedangkan pemberian metilprednisolone dengan dosis 100 mg injeksi tunggal pada pasien non ICU menunjukkan adanya peningkatkan fungsi paru-paru dan meminimalkan adanya rawat inap. Pada pemberian prednisone dengan rute oral pada pasien ICU dan non ICU menunjukkan hasil yang berbeda. Pemberian prednisone dengan dosis 1 mg/kg/hari pada pasien ICU terjadi adanya tingkat kegagalan pada kedua kelompok, masing-masing 16% dan 13% pada kelompok yang diberi prednisone 1 mg/kg/hari dan kelompok kontrol. Sedangkan pemberian prednisone dengan dosis 30-40 mg menunjukkan tidak ada relaps atau kekambuhan, terjadi peningkatan FEV1, status klinis, dan kualitas hidup. Kesimpulannya adalah pemberian kortikosteroid yang paling banyak digunakan adalah prednisone oral dengan dosis 30-40 mg yang menunjukkan terjadinya peningkatan FEV1, mengurangi durasi rawat inap dan meningkatkan kualitas hidup pada pasien PPOK.
KURNIAWATI, ANANDA DESI - Personal Name
6B.S-Far Kur p 100-20
6B.S-Far Kur p 100-20
Text
Indonesia
Prodi Farmasi Universitas Hang Tuah Surabaya
2020
Surabaya
xiv, 51p.; ill.; tab.; 21cm
LOADING LIST...
LOADING LIST...







